Ulasan: Bumi Manusia
Novel yang memaksa kita bertanya: siapa yang berhak disebut manusia di tanah jajahan, dan siapa yang membuat aturannya?
AuriMori
4 menit baca
Bumi Manusia adalah bagian pertama Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer. Kisahnya disusun ketika Pram menjadi tahanan politik di Pulau Buru, dan awalnya dituturkan secara lisan kepada sesama tahanan. Novel ini terbit pada 1980, lalu dilarang beredar oleh Kejaksaan Agung tidak lama kemudian.
Aku pertama kali membaca novel ini dari salinan lusuh milik seorang teman kuliah. Halaman-halamannya sudah menguning dan beberapa lepas dari jilidannya. Temanku berpesan agar aku menjaganya baik-baik, karena buku itu warisan dari ayahnya, yang dulu membacanya diam-diam ketika novel ini masih terlarang. Sejak awal, aku tahu bahwa yang kupegang bukan sekadar novel, melainkan sepotong sejarah perlawanan.
Kisah dan Tokohnya
Ceritanya mengikuti Minke, pemuda pribumi terpelajar di akhir abad ke-19, dan hubungannya dengan Annelies serta ibunya, Nyai Ontosoroh. Nyai Ontosoroh adalah salah satu tokoh paling kuat dalam sastra Indonesia: perempuan yang dipandang rendah oleh hukum dan masyarakat kolonial, tapi mendidik dirinya sendiri hingga mampu mengelola perusahaan dan melawan.
Minke adalah siswa HBS, sekolah menengah elite yang umumnya diperuntukkan bagi anak-anak Eropa. Ia mengagumi ilmu pengetahuan dan kemajuan Eropa, tapi pelan-pelan menyadari bahwa peradaban yang ia kagumi itu juga yang menindas bangsanya. Banyak pembaca dan peneliti mencatat bahwa tokoh Minke terinspirasi dari Tirto Adhi Soerjo, jurnalis perintis pers pribumi di awal abad ke-20.
Annelies, putri Nyai Ontosoroh dengan seorang Belanda, digambarkan rapuh dan lembut. Hubungannya dengan Minke menjadi poros emosional novel ini. Tapi tokoh yang paling membekas bagi banyak pembaca, termasuk aku, adalah Nyai Ontosoroh. Ia dijual oleh ayahnya sendiri kepada seorang Belanda, lalu menjadi gundik tanpa status hukum yang jelas. Alih-alih hancur, ia belajar membaca, menulis, berdagang, dan akhirnya menjalankan perusahaan dengan lebih cakap daripada tuannya.
Hukum yang Adil di Atas Kertas
Di balik kisah cintanya, novel ini adalah pelajaran tentang bagaimana hukum bisa adil secara prosedur tapi zalim secara substansi. Puncak ceritanya adalah sebuah perkara hukum yang menunjukkan betapa tidak berdayanya Nyai Ontosoroh dan Minke di hadapan sistem kolonial. Karena hubungan Nyai dengan tuannya tidak diakui secara hukum, haknya sebagai ibu pun tidak diakui. Semua prosedur dijalankan dengan rapi, dan hasilnya adalah ketidakadilan yang menghancurkan.
Bagian ini membuatku berpikir lama. Kita sering menganggap bahwa selama sesuatu legal, ia pasti adil. Bumi Manusia mengingatkan bahwa hukum dibuat oleh manusia, sering kali oleh mereka yang berkuasa, untuk melindungi kepentingan mereka. Legal dan adil bisa menjadi dua hal yang sangat berbeda.
Kita telah melawan, Nak, Nyo. Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.
Pendidikan sebagai Pedang Bermata Dua
Pendidikan membuka mata Minke, tapi juga memperlihatkan betapa timpangnya dunia tempat ia hidup. Semakin banyak ia belajar, semakin jelas ia melihat bahwa ilmu yang ia pelajari tidak membebaskannya dari diskriminasi. Ia tetap dipandang rendah oleh teman-teman Eropanya, tetap harus berjongkok di hadapan pejabat, dan tetap tidak diakui sebagai manusia yang setara.
Nyai Ontosoroh juga menjadi contoh bagaimana pendidikan bisa menjadi alat perlawanan. Ia tidak pernah bersekolah secara formal, tapi ia belajar dari buku, dari pengalaman, dan dari keharusan bertahan hidup. Pengetahuannya membuat ia mampu berdiri tegak di hadapan orang-orang yang ingin merendahkannya, meski sistem tetap tidak berpihak padanya.
Kenapa Ini Bacaan Pemikiran
Bumi Manusia sering dibaca sebagai novel sejarah atau novel cinta. Keduanya benar. Tapi bagi blog yang gemar mempertanyakan, novel ini juga merupakan bacaan pemikiran yang kaya. Ia mengajak kita memeriksa siapa yang membuat aturan, siapa yang diuntungkan, dan siapa yang dikorbankan. Ia menunjukkan bagaimana prasangka rasial dan kelas dilembagakan dalam hukum, pendidikan, dan kebiasaan sehari-hari.
Pertanyaan itu masih relevan hari ini: aturan siapa yang sedang kita patuhi, dan siapa yang diuntungkan olehnya? Ketika kita melihat warga yang digusur atas nama pembangunan, pekerja yang tidak dilindungi atas nama fleksibilitas, atau kelompok minoritas yang dipersulit atas nama ketertiban, kita sedang melihat pola yang mirip dengan yang dilawan Minke dan Nyai Ontosoroh.
Seorang terpelajar harus juga berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan.
Catatan Kritis
Sebagai novel, Bumi Manusia tidak sempurna. Beberapa pembaca merasa tokoh Annelies kurang berkembang dan lebih berfungsi sebagai simbol daripada manusia yang utuh. Dialog-dialognya kadang terasa panjang dan bernada ceramah, terutama ketika tokoh-tokohnya membahas gagasan besar. Bagi pembaca yang terbiasa dengan novel berirama cepat, bagian awal bisa terasa lambat.
Tapi kekurangan-kekurangan ini terasa kecil dibanding kekuatannya. Pram berhasil membangun dunia yang hidup, tokoh-tokoh yang membekas, dan pertanyaan-pertanyaan yang terus menghantui lama setelah halaman terakhir ditutup.
Untuk Siapa Buku Ini
Buku ini cocok untuk siapa saja yang ingin memahami akar sejarah bangsa ini dari sudut pandang yang manusiawi. Ia juga cocok untuk pembaca yang tertarik pada pertanyaan tentang keadilan, identitas, dan perlawanan. Kalau kamu sudah menonton adaptasi filmnya, membaca novelnya tetap layak, karena banyak lapisan pemikiran yang tidak bisa sepenuhnya diterjemahkan ke layar.
Bacalah perlahan. Biarkan kalimat-kalimat Pram mengendap. Dan ketika selesai, tanyakan pada dirimu sendiri: dalam hidupku hari ini, aturan siapa yang kupatuhi tanpa pernah kuperiksa?
Skor AuriMori: 9.5 dari 10.