Ulasan: Filosofi Teras
Pengantar Stoisisme paling membumi untuk pembaca Indonesia: ringan, lucu, dan berguna, meski kadang terlalu menyederhanakan.
AuriMori
5 menit baca
Henry Manampiring memperkenalkan Stoisisme, filsafat Yunani-Romawi yang diwariskan antara lain oleh Epictetus, Seneca, dan Marcus Aurelius, lewat contoh yang sangat dekat dengan pembaca Indonesia: macet, atasan yang menyebalkan, dan komentar warganet.
Aku membaca buku ini di masa ketika aku mudah sekali tersinggung. Komentar kecil di media sosial bisa merusak suasana hatiku seharian. Keterlambatan kereta bisa membuatku marah sampai ke kantor. Seorang teman menyodorkan buku ini sambil berkata, "Coba baca, siapa tahu kamu jadi lebih kalem." Aku membacanya dengan skeptis, dan selesai dengan beberapa catatan yang masih kupakai sampai sekarang.
Dari Serambi Athena ke Teras Kita
Judul buku ini adalah permainan kata yang cerdas. Stoisisme berasal dari kata stoa, yang berarti serambi atau teras berpilar. Zeno dari Citium, pendiri aliran ini, mengajar di Stoa Poikile, serambi berlukis di Athena, sekitar abad ke-3 sebelum Masehi. Henry menerjemahkannya menjadi "teras", membuat filsafat kuno ini terdengar seperti obrolan santai di depan rumah.
Dalam pengantarnya, penulis bercerita bahwa ia menemukan Stoisisme di masa ketika ia sedang bergulat dengan kecemasan dan kesehatan mentalnya. Latar ini memberi buku ini kehangatan tersendiri. Ia tidak ditulis oleh seorang profesor filsafat yang berbicara dari menara gading, melainkan oleh seseorang yang menemukan filsafat ini berguna dalam hidupnya sendiri.
Gagasan Utama: Dikotomi Kendali
Konsep yang paling sering dikutip dari buku ini adalah dikotomi kendali: ada hal yang berada di bawah kendali kita, seperti pikiran dan tindakan kita sendiri, dan ada yang tidak, seperti cuaca, opini orang lain, atau hasil akhir. Ketenangan datang dari memusatkan energi pada yang pertama.
Ada hal-hal yang berada di bawah kendali kita, dan ada yang tidak.
Kedengarannya sederhana, bahkan klise. Tapi ketika diterapkan, gagasan ini ternyata cukup kuat. Aku tidak bisa mengendalikan keterlambatan kereta, tapi aku bisa mengendalikan bagaimana aku menanggapinya. Aku tidak bisa mengendalikan komentar orang lain di media sosial, tapi aku bisa mengendalikan apakah aku membacanya, membalasnya, atau membiarkannya berlalu.
Alat-Alat Praktis
Kekuatan utama buku ini ada pada alat-alat praktisnya. Henry tidak hanya menjelaskan konsep, tapi juga memberi cara untuk menerapkannya. Salah satunya adalah langkah sederhana yang ia singkat sebagai STAR: Stop, Think and Assess, Respond. Ketika emosi negatif muncul, berhenti sejenak, pikirkan dan nilai situasinya, lalu tanggapi dengan sadar.
Ia juga membahas praktik premeditatio malorum, membayangkan hal-hal buruk yang mungkin terjadi sebelum terjadi. Tujuannya bukan untuk menjadi pesimis, melainkan untuk mempersiapkan mental agar tidak terlalu terguncang ketika hal buruk benar-benar datang. Ada pula pembahasan tentang amor fati, sikap mencintai nasib, termasuk bagian-bagian yang tidak kita sukai.
Gaya yang Membumi
Gaya penulisan Henry adalah alasan utama buku ini laris. Ia menulis dengan bahasa sehari-hari, penuh humor, dan kaya contoh lokal. Ada ilustrasi-ilustrasi lucu, ada wawancara dengan beberapa narasumber, dan ada banyak cerita yang membuat pembaca merasa sedang mengobrol dengan teman. Bagi orang yang belum pernah membaca filsafat, buku ini adalah pintu masuk yang sangat ramah.
Keberhasilan buku ini juga menunjukkan bahwa ada kehausan besar terhadap filsafat di kalangan pembaca Indonesia, asalkan disajikan dengan cara yang tidak menakutkan. Setelah buku ini terbit, diskusi tentang Stoisisme menjamur di media sosial, di kelompok baca, dan di siniar.
Catatan Kritis
Kekuatan buku ini sekaligus menjadi celahnya. Karena ditulis seringan buku pengembangan diri, Stoisisme bisa disalahpahami sebagai ajakan untuk pasrah, termasuk pasrah pada ketidakadilan yang sebenarnya bisa dan perlu dilawan bersama. Para Stoa sendiri menekankan kebajikan dan keadilan, bukan sekadar ketenangan pribadi. Pembaca yang kritis sebaiknya menjadikan buku ini pintu masuk, lalu membaca sumber aslinya.
Ada risiko lain. Dikotomi kendali, jika diterapkan secara dangkal, bisa membuat kita terlalu cepat menyerah pada hal-hal yang sebenarnya bisa diubah melalui tindakan bersama. Upah yang rendah, kebijakan yang tidak adil, atau sistem yang diskriminatif memang tidak bisa diubah oleh satu orang. Tapi bukan berarti semuanya di luar kendali. Marcus Aurelius sendiri adalah seorang kaisar yang terus bekerja mengurus negaranya, bukan pertapa yang menarik diri.
Apa yang tidak baik bagi sarang lebah, tidak baik pula bagi lebahnya.
Kutipan ini mengingatkan bahwa para Stoa melihat manusia sebagai bagian dari komunitas. Ketenangan pribadi tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti peduli pada kebaikan bersama.
Untuk Siapa Buku Ini
Buku ini cocok untuk siapa saja yang merasa hidupnya terlalu dikendalikan oleh emosi negatif, terutama kecemasan, kemarahan, dan rasa iri. Ia juga cocok sebagai pengantar filsafat bagi pembaca yang belum pernah menyentuh topik ini. Setelah selesai, pertimbangkan untuk membaca Meditations karya Marcus Aurelius, surat-surat Seneca, atau Enchiridion karya Epictetus untuk mendapatkan gambaran yang lebih utuh.
Bagiku, buku ini tidak mengubah hidupku secara dramatis. Tapi ia memberiku satu kebiasaan kecil yang berharga: berhenti sejenak sebelum bereaksi, dan bertanya, "ini dalam kendaliku atau tidak?" Pertanyaan sederhana itu sudah menyelamatkanku dari banyak pertengkaran yang tidak perlu.
Skor AuriMori: 8.0 dari 10.