Ulasan: Man's Search for Meaning
Kesaksian dari kamp konsentrasi yang mengajarkan satu hal sulit: makna bisa ditemukan bahkan di tengah penderitaan.
AuriMori
5 menit baca
Viktor Frankl adalah psikiater asal Wina yang selamat dari beberapa kamp konsentrasi Nazi, termasuk Auschwitz. Bagian pertama bukunya berisi pengalaman di kamp. Bagian kedua memperkenalkan logoterapi, pendekatan yang ia kembangkan dengan gagasan bahwa dorongan utama manusia adalah mencari makna.
Aku membaca buku ini di salah satu masa terendah dalam hidupku. Pekerjaan sedang berantakan, hubungan baru saja berakhir, dan aku merasa hidupku tidak menuju ke mana-mana. Seorang kawan menyarankan buku ini dengan satu kalimat: "Bacalah, supaya kamu tahu bahwa manusia bisa bertahan dari hal yang jauh lebih buruk." Aku membacanya dalam dua malam, dan beberapa halamannya masih kubaca ulang sampai sekarang.
Kesaksian dari Kamp
Bagian pertama buku ini bukan kronik sejarah tentang kekejaman Nazi. Frankl sengaja tidak banyak menggambarkan kengerian besar yang sudah banyak didokumentasikan. Ia lebih tertarik pada pertanyaan psikologis: bagaimana kehidupan sehari-hari di kamp memengaruhi pikiran tahanan biasa? Apa yang membuat sebagian orang mampu bertahan secara batin, sementara yang lain hancur?
Frankl menggambarkan tahapan psikologis yang dialami tahanan. Pada awalnya ada kejutan, ketika tahanan baru tiba dan masih berpegang pada harapan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Lalu datang apati, ketika perasaan menjadi tumpul sebagai mekanisme bertahan. Dan setelah pembebasan, ada tahap yang tidak kalah sulit: kebingungan, kepahitan, dan kekecewaan ketika dunia di luar tidak seperti yang dibayangkan.
Yang membuat bagian ini begitu kuat adalah kejujurannya. Frankl tidak menggambarkan dirinya sebagai pahlawan. Ia mengakui rasa takut, rasa lapar yang membuat manusia kehilangan martabat, dan kenyataan bahwa banyak yang selamat justru karena keberuntungan, bukan karena kebajikan.
Yang Membekas
Frankl mengutip Nietzsche: orang yang punya alasan untuk hidup sanggup menanggung hampir segala cara hidup. Ia mengamati bahwa tahanan yang masih memegang sesuatu untuk dituju, entah orang yang dicintai, karya yang belum selesai, atau keyakinan, lebih mampu bertahan secara batin. Kebebasan terakhir manusia, tulisnya, adalah memilih sikap terhadap keadaan apa pun.
Segala sesuatu bisa dirampas dari manusia, kecuali satu: kebebasan terakhirnya untuk memilih sikap dalam keadaan apa pun.
Salah satu bagian yang paling menyentuh adalah ketika Frankl bercerita tentang istrinya. Di tengah barisan kerja paksa di pagi yang dingin, ia membayangkan wajah istrinya dan bercakap-cakap dengannya dalam pikiran. Ia tidak tahu apakah istrinya masih hidup, dan kemudian ia mengetahui bahwa istrinya tidak selamat. Tapi pada saat itu, cinta memberinya kekuatan untuk terus melangkah. Ia menulis bahwa cinta adalah tujuan tertinggi yang bisa dicita-citakan manusia.
Logoterapi dan Tiga Jalan Menuju Makna
Bagian kedua buku ini memperkenalkan logoterapi, dari kata Yunani logos yang bisa diartikan sebagai makna. Berbeda dengan Freud yang menekankan dorongan kesenangan dan Adler yang menekankan dorongan kekuasaan, Frankl berpendapat bahwa dorongan paling mendasar manusia adalah mencari makna.
Menurut Frankl, ada tiga jalan untuk menemukan makna. Yang pertama adalah melalui karya atau perbuatan, yaitu menciptakan sesuatu atau melakukan sesuatu yang berharga. Yang kedua adalah melalui pengalaman, terutama mengalami cinta kepada seseorang. Yang ketiga, dan yang paling menantang, adalah melalui sikap kita terhadap penderitaan yang tidak bisa dihindari.
Makna, Bukan Kebahagiaan
Salah satu gagasan Frankl yang paling relevan untuk zaman sekarang adalah kritiknya terhadap pengejaran kebahagiaan. Menurutnya, kebahagiaan tidak bisa dikejar secara langsung. Semakin kita mengejarnya, semakin ia menjauh. Kebahagiaan adalah efek samping dari menjalani hidup yang bermakna: mengabdikan diri pada sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri, atau mencintai seseorang.
Gagasan ini terasa menyegarkan di tengah budaya yang terobsesi dengan kebahagiaan instan. Kita diajari untuk mengejar perasaan senang melalui belanja, hiburan, atau pencapaian. Frankl mengajak kita untuk bertanya pertanyaan yang berbeda: bukan "apa yang membuatku bahagia?", melainkan "apa yang hidup harapkan dariku?"
Catatan Kritis
Buku ini perlu dibaca dengan hati-hati agar tidak dipakai untuk meromantisasi penderitaan, apalagi menyalahkan korban seolah mereka gagal karena kurang bermakna. Banyak orang di kamp itu meninggal bukan karena kehilangan makna, melainkan karena kekejaman sistem. Frankl sendiri tidak menyangkal hal itu. Dibaca dengan tepat, buku ini bukan nasihat untuk menerima ketidakadilan, melainkan pengingat bahwa martabat manusia tidak bisa dirampas seluruhnya.
Perlu juga dicatat bahwa bagian logoterapi di buku ini cukup ringkas. Pembaca yang ingin memahami pendekatan ini lebih dalam perlu membaca karya-karya Frankl yang lain. Beberapa psikolog juga mengkritik bahwa logoterapi kurang didukung penelitian empiris dibanding pendekatan terapi lain. Buku ini lebih tepat dibaca sebagai kesaksian dan refleksi filosofis daripada sebagai panduan terapi.
Untuk Siapa Buku Ini
Buku ini cocok untuk siapa saja yang sedang mencari makna, atau merasa kehilangan arah. Ia juga cocok untuk pembaca yang tertarik pada psikologi, filsafat, dan sejarah. Ukurannya tipis dan bahasanya jernih, sehingga bisa dibaca dalam satu atau dua malam. Tapi isinya akan menemanimu jauh lebih lama.
Kalau kamu sedang berada di masa yang berat, buku ini tidak akan menghapus masalahmu. Tapi ia mungkin membantumu melihat bahwa bahkan di tengah keadaan yang tidak bisa kamu ubah, masih ada satu hal yang tetap milikmu: cara kamu menghadapinya.
Skor AuriMori: 9.3 dari 10.