AuriMori
Ulasan

Ulasan: Madilog

Buku tua yang masih menampar: ajakan keras untuk berhenti berpikir mistis dan mulai menimbang sebab-akibat dengan logika.

AuriMori

AuriMori

5 menit baca

86
Ulasan: Madilog

Madilog, singkatan dari Materialisme, Dialektika, Logika, ditulis Tan Malaka dalam persembunyian di Batavia pada masa pendudukan Jepang, sekitar 1942 sampai 1943. Inti buku ini adalah seruan agar bangsa Indonesia meninggalkan apa yang ia sebut "logika mistika", cara berpikir yang menyerahkan sebab-akibat kepada kekuatan gaib.

Aku membeli buku ini karena penasaran dengan namanya yang sering disebut tapi jarang benar-benar dibahas. Di rak toko buku, ia terlihat tebal dan menakutkan. Beberapa minggu pertama, buku ini hanya menjadi pajangan di mejaku. Ketika akhirnya kubaca, aku menemukan sesuatu yang tidak kuduga: tulisan yang penuh semangat, kadang emosional, dari seorang pemikir yang sangat ingin bangsanya maju.

Madilog ditulis dalam persembunyian, oleh seorang pelarian yang terus berpindah tempat untuk menghindari penangkapan.
Madilog ditulis dalam persembunyian, oleh seorang pelarian yang terus berpindah tempat untuk menghindari penangkapan.

Siapa Tan Malaka

Untuk memahami Madilog, kita perlu sedikit mengenal penulisnya. Tan Malaka lahir di Sumatra Barat dan sempat bersekolah di Belanda. Ia menghabiskan sebagian besar hidupnya dalam pengasingan dan pelarian, berpindah dari satu negara ke negara lain di Asia dan Eropa, sering dengan nama samaran. Ia adalah salah satu tokoh pergerakan yang paling awal menggagas Indonesia merdeka.

Hidupnya berakhir tragis. Ia tewas dieksekusi pada 1949, di tengah kekacauan revolusi. Pada 1963, ia diangkat sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional. Tapi selama puluhan tahun berikutnya, nama dan karyanya jarang dibicarakan secara terbuka, sebagian karena kaitannya dengan gerakan kiri. Baru setelah Reformasi, karyanya kembali banyak dibaca dan didiskusikan.

Logika Mistika

Gagasan paling terkenal dari Madilog adalah kritik terhadap logika mistika. Bagi Tan Malaka, salah satu penghambat terbesar kemajuan bangsa adalah kebiasaan menjelaskan segala sesuatu dengan kekuatan gaib. Panen gagal karena roh marah. Penyakit datang karena guna-guna. Kemiskinan adalah takdir yang tidak bisa diubah. Cara berpikir seperti ini, menurutnya, membuat orang pasrah dan tidak mencari sebab-sebab nyata dari masalah mereka.

Sebagai gantinya, Tan Malaka menawarkan cara berpikir ilmiah: mengamati, mencari sebab-akibat yang bisa diuji, dan menarik kesimpulan berdasarkan bukti. Ia mengambil banyak contoh dari sejarah ilmu pengetahuan, dari fisika, kimia, hingga biologi, untuk menunjukkan bagaimana cara berpikir ini telah mengubah dunia.

Tan Malaka mengajak pembacanya beralih dari penjelasan gaib ke penjelasan yang bisa diamati dan diuji.
Tan Malaka mengajak pembacanya beralih dari penjelasan gaib ke penjelasan yang bisa diamati dan diuji.

Yang Membuatnya Kuat

Semangatnya menular. Tan Malaka menulis seperti orang yang terburu-buru karena merasa bangsanya sedang tertinggal. Ia mengambil contoh dari kehidupan sehari-hari dan dari sejarah ilmu pengetahuan untuk menunjukkan bahwa nalar adalah alat pembebasan, bukan barang mewah kaum terpelajar.

Yang juga mengesankan adalah kondisi penulisannya. Tan Malaka menulis buku ini tanpa akses ke perpustakaan, mengandalkan ingatan atas bacaan-bacaannya selama bertahun-tahun di pengasingan. Bayangkan menulis buku tentang sejarah sains dan filsafat tanpa bisa membuka satu pun buku referensi. Hasilnya memang tidak selalu rapi, tapi kegigihan di baliknya patut dihormati.

Kutipan

Bangsa yang masih percaya bahwa nasibnya ditentukan kekuatan gaib akan sulit bangkit memperjuangkan nasibnya sendiri.

— Gagasan yang sering dikutip dari Madilog (parafrase)

Yang Membuatnya Berat

Bahasanya ejaan lama, strukturnya sering melompat, dan sebagian kerangka materialisme dialektisnya terasa sangat terikat pada zamannya. Pembaca pemula sebaiknya bersabar, atau membaca ulasan pengantar lebih dulu.

Bagian tentang dialektika, misalnya, bisa terasa sangat abstrak bagi pembaca yang tidak akrab dengan filsafat Hegel dan Marx. Tan Malaka juga kadang terlalu yakin bahwa ilmu pengetahuan pada zamannya sudah final, padahal banyak hal yang ia sebut sebagai kepastian kemudian direvisi oleh perkembangan sains berikutnya. Ini bukan kesalahan yang aneh untuk seseorang yang menulis di tahun 1940-an, tapi pembaca perlu menyadarinya.

Bahasa ejaan lama dan struktur yang melompat membuat Madilog menuntut kesabaran dari pembacanya.
Bahasa ejaan lama dan struktur yang melompat membuat Madilog menuntut kesabaran dari pembacanya.

Membaca dengan Kritis

Ironisnya, cara terbaik membaca Madilog adalah dengan menerapkan pesan buku itu sendiri: berpikir kritis. Kita tidak harus menerima semua gagasan Tan Malaka begitu saja. Materialisme yang ia anut, misalnya, adalah posisi filosofis yang masih diperdebatkan. Banyak pembaca yang beragama mungkin tidak setuju dengan beberapa kesimpulannya tentang agama.

Tapi kita bisa memisahkan antara ideologi yang ia anut dan metode berpikir yang ia tawarkan. Ajakan untuk mencari sebab-akibat yang nyata, untuk tidak pasrah pada penjelasan gaib, dan untuk menguji klaim dengan bukti adalah ajakan yang bisa diterima oleh siapa pun, apa pun keyakinannya.

Kenapa Masih Relevan

Di tengah hoaks kesehatan, penipuan berkedok penggandaan uang, dan keputusan publik yang kadang lebih percaya klenik daripada data, seruan Madilog terasa ditulis untuk hari ini. Kita tidak harus setuju dengan seluruh ideologi penulisnya untuk mengakui bahwa ajakannya berpikir jernih tetap mendesak.

Logika mistika tidak hilang. Ia hanya berganti baju. Dulu ia berupa dukun yang mengaku bisa menyembuhkan segala penyakit. Sekarang ia bisa berupa produk kesehatan yang diklaim menyembuhkan kanker tanpa bukti, investasi yang menjanjikan keuntungan tidak masuk akal, atau teori konspirasi yang menjelaskan segala masalah dengan satu dalang tersembunyi.

Logika mistika tidak hilang, ia hanya berpindah tempat: dari mulut dukun ke layar ponsel kita.
Logika mistika tidak hilang, ia hanya berpindah tempat: dari mulut dukun ke layar ponsel kita.

Untuk Siapa Buku Ini

Madilog cocok untuk pembaca yang tertarik pada sejarah pemikiran Indonesia dan ingin memahami bagaimana tokoh-tokoh pergerakan membayangkan bangsa yang merdeka, bukan hanya secara politik, tapi juga secara pikiran. Ia juga cocok untuk siapa saja yang ingin melatih cara berpikir logis, asalkan bersedia bersabar dengan bahasanya.

Buku ini bukan bacaan santai di akhir pekan. Tapi bagi yang mau berusaha, ia memberi sesuatu yang langka: kesempatan untuk mendengar suara seorang pemikir yang sangat percaya bahwa bangsanya bisa maju, asalkan berani berpikir dengan kepala sendiri.

Skor AuriMori: 8.6 dari 10.

AuriMori

Blog pemikiran kritis tentang hal-hal yang kita lewati setiap hari: parkir liar, gang sempit, cinta, agama, dan dogma yang jarang diperiksa.

Kembali ke atas
© 2026 AuriMori. Hak cipta dilindungi. Ditulis pelan-pelan, dibaca sambil ngopi.