AuriMori
Catatan Lapangan

Satu Sore di Pemukiman Padat Jakarta yang Mengubah Cara Saya Melihat Kota

Gang selebar bahu, rumah tanpa jendela, dan anak yang belajar di bawah lampu tetangga. Catatan satu sore di pemukiman padat Jakarta, dan pertanyaan yang tertinggal.

AuriMori

AuriMori

6 menit baca

Satu Sore di Pemukiman Padat Jakarta yang Mengubah Cara Saya Melihat Kota

Pak Darto, juru parkir yang kuceritakan di tulisan sebelumnya, mengajakku mampir. "Dekat, Mas, sepuluh menit jalan kaki." Ternyata sepuluh menit itu cukup untuk berpindah dunia: dari jalan raya yang diapit gedung kaca ke sebuah kampung padat di bantaran kali di utara Jakarta.

Aku sudah tinggal di kota ini bertahun-tahun. Aku hafal rute ojek tercepat, tahu kafe mana yang buka sampai larut, dan bisa menebak jam berapa jalan tol mulai macet. Tapi sore itu aku sadar bahwa ada bagian kota yang selama ini hanya kulihat dari balik kaca mobil atau dari jembatan layang. Ini catatan tentang sore itu, dan tentang prasangka yang runtuh satu per satu.

Dari ketinggian, atap-atap rumah tampak menyatu. Dari dalam, setiap atap menyimpan satu keluarga dengan ceritanya sendiri.
Dari ketinggian, atap-atap rumah tampak menyatu. Dari dalam, setiap atap menyimpan satu keluarga dengan ceritanya sendiri.

Gang Selebar Bahu

Gang masuknya hanya muat satu motor. Kalau berpapasan, salah satu harus mengalah dan menempel ke tembok. Kabel listrik bergelantungan rendah di atas kepala. Bau selokan bercampur aroma gorengan dan sabun cuci. Anehnya, di gang sesempit itu aku merasa diawasi dengan ramah. Ibu-ibu menyapa, anak-anak bertanya aku siapa dan mau ke rumah siapa.

Di kompleks perumahan, orang asing yang lewat biasanya diperhatikan dengan curiga atau tidak diperhatikan sama sekali. Di gang ini, orang asing langsung ditanya, disapa, dan dalam lima menit identitasnya sudah diketahui separuh RT. Aku tidak tahu apakah itu bentuk keramahan atau bentuk pengawasan. Mungkin keduanya, dan mungkin di tempat sepadat ini keduanya memang tidak bisa dipisahkan.

Gang selebar bahu: kalau dua motor berpapasan, salah satu harus menepi ke tembok.
Gang selebar bahu: kalau dua motor berpapasan, salah satu harus menepi ke tembok.

Rumah Pak Darto kira-kira berukuran tiga kali empat meter. Satu ruangan untuk tidur, makan, dan menonton televisi. Dapurnya di pojok. Kamar mandinya dipakai bersama tiga keluarga. Jendela? Tidak ada. Dinding rumahnya langsung menempel ke dinding tetangga. Udara masuk dari pintu dan dari celah kecil di bawah atap seng.

Kasur digulung di siang hari supaya ruangan bisa dipakai untuk duduk. Pakaian digantung di paku-paku yang ditanam di dinding. Semua barang punya tempatnya, karena di ruang sekecil itu tidak ada kemewahan untuk berantakan. Aku yang terbiasa dengan kamar sendiri tiba-tiba merasa malu pada lemari di rumahku yang setengah isinya tidak pernah kupakai.

Prasangka Pertama: "Mereka Malas"

Aku datang membawa prasangka yang jarang kuakui: bahwa orang tinggal di tempat seperti ini karena kurang berusaha. Sore itu prasangka tersebut runtuh. Istri Pak Darto membuat kue dari jam tiga pagi untuk dititipkan ke warung. Anak sulungnya bekerja di gudang. Tetangga sebelah adalah buruh cuci. Semuanya bekerja, lebih lama dari jam kerjaku, dan penghasilan mereka tetap tidak cukup untuk keluar dari gang itu.

Kutipan

Kami kerja terus, Mas. Cuma uangnya selalu habis sebelum sempat jadi tabungan.

— Bu Darto, pembuat kue titipan

Masalahnya bukan malas. Masalahnya adalah jarak antara upah dan biaya hidup di kota. Sewa hunian layak di dekat tempat kerja tidak terjangkau, sementara tinggal jauh berarti ongkos transportasi memakan sebagian besar upah. Pemukiman padat adalah jawaban rasional atas persamaan yang tidak adil.

Prasangka "mereka malas" sebenarnya sangat nyaman bagi orang seperti aku. Ia membuatku tidak perlu bertanya tentang sistem upah, harga tanah, atau tata ruang kota. Cukup menyalahkan individu, lalu pulang dengan perasaan bahwa nasib baikku adalah hasil kerja kerasku sendiri. Sore itu aku dipaksa mengakui bahwa kerja keras tidak selalu berbanding lurus dengan hasil, dan bahwa titik awal setiap orang sangat berbeda.

Dapur di pojok ruangan. Di sinilah adonan kue disiapkan sejak jam tiga pagi.
Dapur di pojok ruangan. Di sinilah adonan kue disiapkan sejak jam tiga pagi.

Prasangka Kedua: "Kumuh Berarti Tidak Teratur"

Dari luar, semuanya tampak semrawut. Dari dalam, ada tatanan yang rapi: jadwal kerja bakti membersihkan saluran, arisan, iuran kematian, dan ronda bergilir. Kalau ada yang sakit, tetangga patungan. Modal sosial semacam ini justru sering hilang di kompleks perumahan, tempat orang bisa sepuluh tahun bertetangga tanpa tahu nama satu sama lain.

Pak Darto menunjukkan papan kecil di pos ronda berisi jadwal jaga malam. Ia juga bercerita tentang kas RT yang dipakai untuk membeli pompa air ketika banjir datang. Semua dicatat di buku tulis bergaris yang sudah lusuh. Tidak ada aplikasi, tidak ada rapat daring, tapi sistemnya berjalan, karena setiap orang tahu bahwa kalau satu rumah kebanjiran, rumah sebelahnya pasti ikut.

Aku tidak sedang meromantisasi kemiskinan. Banjir tetap datang tiap musim hujan, anak-anak tetap rentan diare dan infeksi saluran pernapasan, dan ancaman penggusuran selalu menggantung. Tapi aku belajar bahwa kata "kumuh" adalah label dari luar yang sering menghapus kehidupan terorganisir di dalamnya.

Bahasa yang Kita Pakai

Perhatikan kata-kata yang biasa kita gunakan untuk tempat seperti ini: kumuh, liar, ilegal, tidak tertata. Semua kata itu berasal dari sudut pandang orang luar, entah perencana kota, pengembang, atau warga kelas menengah yang lewat. Jarang sekali kita mendengar kata yang dipakai penghuninya sendiri: kampung, rumah, lingkungan.

Bahasa bukan soal sepele. Kata "liar" membuat penggusuran terdengar wajar, seolah kita sedang membersihkan semak, bukan memindahkan manusia. Kata "kumuh" membuat kita membayangkan kekacauan, bukan jaringan solidaritas yang baru saja kulihat. Berpikir kritis berarti juga memeriksa kata-kata yang kita warisi, dan bertanya siapa yang diuntungkan ketika sebuah kata menjadi umum.

Jemuran yang melintang di antara rumah. Di tempat sepadat ini, ruang pribadi dan ruang bersama sering kali berbagi tali yang sama.
Jemuran yang melintang di antara rumah. Di tempat sepadat ini, ruang pribadi dan ruang bersama sering kali berbagi tali yang sama.

Anak yang Belajar di Bawah Lampu Tetangga

Momen yang paling membekas: anak bungsu Pak Darto mengerjakan PR di teras tetangga karena lampu di sana lebih terang. Dia bilang ingin jadi dokter. Aku mengangguk, lalu diam-diam menghitung: biaya kuliah, nilai, akses les, jaringan. Mimpi itu tidak mustahil, tapi jalannya jauh lebih terjal dibanding jalan anak-anak di kompleks yang jaraknya hanya sepuluh menit dari sana.

Belajar di teras tetangga, karena lampu di sana lebih terang.
Belajar di teras tetangga, karena lampu di sana lebih terang.

Anak di kompleks mungkin punya meja belajar sendiri, internet yang stabil, dan orang tua yang bisa membayar bimbingan belajar. Anak di gang ini punya kemauan yang sama besar, tapi harus berbagi lampu, berbagi ruang, dan kadang harus membantu orang tuanya berjualan sepulang sekolah. Kalau keduanya nanti bersaing masuk fakultas kedokteran, kita akan menyebut hasilnya "meritokrasi".

Di situ aku memahami ketimpangan bukan sebagai angka rasio dalam laporan, tapi sebagai jarak antara dua anak yang sama pintarnya.

Kota Ini Dibangun oleh Siapa?

Saat pulang, aku melewati gedung-gedung kaca yang sama. Kali ini aku memperhatikan siapa yang menyapu lobinya, menjaga parkirnya, dan memasak makan siang pekerjanya. Banyak dari mereka pulang ke gang seperti gang Pak Darto. Kota ini berdiri di atas tenaga orang-orang yang tidak mampu tinggal di pusatnya.

Pertanyaan kritisnya: kalau kota membutuhkan mereka, kenapa perencanaan kota sering memperlakukan mereka sebagai masalah? Hunian terjangkau dekat pusat kerja, penataan kampung tanpa menggusur penghuninya, dan transportasi umum yang murah bukan bentuk amal. Itu kewajiban kota kepada orang-orang yang menopangnya.

Gedung kaca di pusat kota. Banyak orang yang merawatnya setiap hari pulang ke gang-gang sempit di pinggirannya.
Gedung kaca di pusat kota. Banyak orang yang merawatnya setiap hari pulang ke gang-gang sempit di pinggirannya.

Yang Kubawa Pulang

Aku tidak pulang membawa solusi. Aku pulang membawa kebiasaan baru: setiap kali mendengar kata "kumuh", "liar", atau "pendatang", aku bertanya siapa yang memberi label itu, dan apa yang tidak terlihat dari tempatnya berdiri.

Aku juga pulang membawa rasa terima kasih yang canggung. Pak Darto dan keluarganya menjamuku dengan teh manis dan kue sisa jualan, padahal mereka tidak punya kewajiban apa pun kepadaku. Kemurahan hati seperti itu, dari orang yang hidupnya pas-pasan, membuatku bertanya ulang tentang arti cukup. Berpikir kritis, ternyata, bisa dimulai dari sepuluh menit berjalan kaki.

AuriMori

Blog pemikiran kritis tentang hal-hal yang kita lewati setiap hari: parkir liar, gang sempit, cinta, agama, dan dogma yang jarang diperiksa.

Kembali ke atas
© 2026 AuriMori. Hak cipta dilindungi. Ditulis pelan-pelan, dibaca sambil ngopi.