Budaya Sungkan: Kenapa Kita Sulit Bilang Tidak
Kita mengiyakan lembur, utang, dan undangan yang tidak kita inginkan demi menjaga perasaan. Kapan sungkan menjadi sopan santun, dan kapan ia menjadi beban?
AuriMori
5 menit baca
"Nggak enak, ah." Tiga kata ini mungkin kalimat paling berkuasa dalam pergaulan kita. Karena nggak enak, kita meminjamkan uang yang sebenarnya sedang kita butuhkan, mengiyakan lembur tanpa bayaran, dan datang ke acara yang menguras tabungan.
Aku pernah menghitung, dalam satu bulan, berapa kali aku mengatakan "iya" padahal ingin mengatakan "tidak". Hasilnya membuatku terkejut: lebih dari dua puluh kali. Mulai dari hal kecil seperti ikut makan siang di tempat yang mahal, sampai hal besar seperti menerima proyek tambahan di kantor yang membuatku lembur tiga minggu. Semua itu karena satu alasan: tidak enak menolak.
Sungkan sebagai Perekat Sosial
Rasa sungkan tidak lahir tanpa alasan. Dalam budaya yang menjunjung harmoni, menjaga perasaan orang lain adalah kebajikan. Dalam budaya Jawa, misalnya, dikenal istilah ewuh pakewuh, rasa segan terhadap orang yang lebih tua atau lebih tinggi kedudukannya. Rasa ini membuat interaksi terasa halus dan konflik terbuka jarang terjadi.
Antropolog yang meneliti masyarakat Indonesia sering mencatat betapa pentingnya menjaga muka, baik muka sendiri maupun muka orang lain. Menolak secara langsung bisa dianggap kasar karena membuat orang lain kehilangan muka. Karena itu, berkembang banyak cara menolak secara tidak langsung: "nanti saya usahakan", "insyaallah", "lihat nanti, ya". Semua orang dalam budaya itu paham bahwa kalimat-kalimat ini sering berarti tidak.
Dalam batas tertentu, ini adalah kecerdasan sosial. Kita belajar membaca isyarat, memahami yang tersirat, dan menjaga hubungan tetap hangat meski ada perbedaan. Masyarakat yang terlalu blak-blakan pun punya masalahnya sendiri: hubungan bisa terasa kasar dan konflik lebih sering pecah.
Ketika Perekat Berubah Menjadi Belenggu
Masalahnya, harmoni yang dijaga dengan ketidakjujuran adalah harmoni yang rapuh. Di kantor, sungkan membuat bawahan tidak berani mengoreksi atasan, sehingga kesalahan menumpuk. Dalam birokrasi, ewuh pakewuh kerap disebut sebagai salah satu penghambat pengawasan: siapa yang berani menegur atasan yang menyimpang? Di keluarga, sungkan membuat masalah dipendam sampai meledak pada waktu yang salah.
Bayangkan seorang karyawan muda yang melihat laporan keuangan atasannya janggal. Ia tahu ada yang salah, tapi menegur atasan terasa tidak sopan. Ia diam. Rekan-rekannya juga diam, dengan alasan yang sama. Bertahun-tahun kemudian, ketika masalah itu akhirnya terungkap, kerugiannya sudah jauh lebih besar. Diam karena sungkan, dalam kasus seperti ini, bukan sopan santun. Itu pembiaran.
Di ranah pribadi, sungkan juga punya harga. Orang yang terus-menerus mengiyakan permintaan orang lain lama-lama kehabisan waktu, tenaga, dan uang untuk dirinya sendiri. Rasa kesal menumpuk diam-diam, lalu keluar dalam bentuk yang tidak sehat: sindiran, menghindar, atau ledakan amarah yang membingungkan orang di sekitarnya.
Setiap kali kamu berkata iya kepada orang lain, pastikan kamu tidak sedang berkata tidak kepada dirimu sendiri.
Utang Piutang dan Rasa Tidak Enak
Salah satu wilayah paling rawan dari budaya sungkan adalah utang piutang. Banyak dari kita pernah meminjamkan uang kepada teman atau saudara karena tidak enak menolak, lalu tidak enak pula menagihnya. Uang tidak kembali, hubungan merenggang, dan kita menyimpan kekesalan yang tidak bisa diucapkan.
Ironisnya, rasa sungkan yang awalnya dimaksudkan untuk menjaga hubungan justru merusaknya. Kalau sejak awal kita berani berkata "maaf, aku sedang tidak bisa meminjamkan", mungkin ada kecewa sesaat. Tapi hubungan tetap jernih. Dibanding bertahun-tahun saling menghindar karena utang yang tidak dibicarakan.
Kenapa Menolak Terasa Begitu Berat
Ada beberapa lapisan di balik sulitnya berkata tidak. Lapisan pertama adalah takut ditolak balik: kalau aku menolak, apakah aku masih diterima? Lapisan kedua adalah rasa bersalah: kita diajari bahwa menolong itu baik, sehingga menolak terasa seperti berbuat jahat. Lapisan ketiga adalah kebiasaan: kita tidak pernah berlatih menolak, sehingga kata itu terasa asing di mulut.
Lapisan-lapisan ini terbentuk sejak kecil. Anak yang menolak disuruh orang tua dianggap durhaka. Murid yang menolak permintaan guru dianggap tidak sopan. Kita tumbuh dengan pelajaran bahwa kepatuhan adalah kebaikan dan penolakan adalah pembangkangan. Tidak heran ketika dewasa, kita kesulitan membedakan antara menolak dengan hormat dan membangkang.
Belajar Menolak dengan Hormat
Menolak bukan lawan dari sopan santun. Ada cara menolak yang tetap hangat.
Contohnya: "Terima kasih sudah mengajak, tapi kali ini aku nggak bisa. Kabari lagi ya untuk acara berikutnya."
Untuk situasi kerja, kalimatnya bisa sedikit berbeda: "Saya senang dipercaya untuk proyek ini. Tapi dengan beban kerja saya sekarang, saya khawatir hasilnya tidak maksimal. Apakah ada tugas lain yang bisa saya tunda, atau proyek ini bisa dialihkan?" Kalimat seperti ini tidak menolak mentah-mentah, tapi juga tidak mengiyakan begitu saja. Ia membuka percakapan tentang batas.
Mulai dari Hal Kecil
Kalau berkata tidak terasa terlalu berat, mulailah dari hal-hal kecil yang risikonya rendah. Menolak tawaran tambahan di restoran. Menolak ajakan nongkrong ketika sedang lelah. Menolak meminjamkan barang yang sedang kamu pakai. Setiap penolakan kecil yang berjalan baik akan membangun keyakinan bahwa dunia tidak runtuh hanya karena kita berkata tidak.
Perhatikan juga bagaimana orang lain merespons. Sering kali, mereka jauh lebih santai daripada yang kita bayangkan. Kita membesar-besarkan reaksi orang lain di kepala kita sendiri. Kebanyakan orang hanya berkata "oh, oke" lalu melanjutkan hidup mereka.
Penutup
Sungkan yang sehat menjaga perasaan orang lain. Sungkan yang tidak sehat mengorbankan diri sendiri sampai habis. Mungkin kedewasaan adalah kemampuan membedakan keduanya, ditambah keberanian mengucapkan satu kata pendek yang ternyata tidak membuat dunia runtuh: tidak.