Ojol, Algoritma, dan Siapa Sebenarnya Bos Kita
Mitra ojol disebut bebas menjadi bos bagi dirinya sendiri. Tapi siapa yang menentukan tarif, bonus, dan sanksi? Membaca ulang kerja di era aplikasi.
AuriMori
4 menit baca
Pengemudi ojol yang mengantarku pulang malam itu bilang sudah empat belas jam di jalan. "Kejar target, Mas. Kalau nggak, bonusnya hangus." Ia menyebut dirinya mitra, bukan karyawan. Bebas memilih jam kerja, katanya. Tapi malam itu, ia tidak terlihat bebas.
Kami mengobrol sepanjang perjalanan. Ia dulu bekerja sebagai sopir di sebuah perusahaan, lalu beralih ke ojol karena tergiur cerita teman yang bisa mendapat penghasilan besar di awal kemunculan aplikasi. "Dulu enak, Mas. Sekarang pengemudinya banyak, tarifnya turun, bonusnya makin susah." Ia tertawa kecil, tapi tawanya terdengar lelah.
Janji Kebebasan
Ketika aplikasi transportasi daring mulai populer di Indonesia, mereka datang dengan janji yang menarik: siapa pun bisa menjadi bos bagi dirinya sendiri. Tidak ada atasan yang memarahi, tidak ada jam kantor yang mengikat, tidak ada seragam yang wajib. Cukup punya motor, ponsel, dan surat-surat yang lengkap, lalu nyalakan aplikasinya kapan saja.
Bagi banyak orang, janji ini sangat berarti. Pekerja yang kehilangan pekerjaan, ibu rumah tangga yang butuh penghasilan tambahan, mahasiswa yang ingin membiayai kuliah, semua bisa masuk tanpa melalui proses seleksi yang panjang. Aplikasi ini membuka pintu yang sebelumnya tertutup bagi banyak orang. Itu pencapaian yang patut diakui.
Bebas, tapi Diatur Algoritma
Model kemitraan di aplikasi transportasi menjanjikan kebebasan: tanpa atasan, tanpa jam kantor. Tapi tarif ditentukan aplikasi, skema bonus bisa berubah sewaktu-waktu, dan akun bisa dinonaktifkan oleh sistem. Bosnya tidak berwajah, tapi perintahnya terasa nyata.
Para peneliti menyebut fenomena ini sebagai manajemen algoritmik: pekerja diawasi, dinilai, dan diberi insentif atau sanksi oleh sistem otomatis, bukan oleh manusia. Algoritma menentukan pesanan mana yang diterima pengemudi, berapa yang ia dapat, dan kapan akunnya dibekukan. Pengemudi sering tidak tahu persis bagaimana sistem itu bekerja, karena rumusnya dirahasiakan sebagai rahasia dagang.
Bayangkan bekerja untuk atasan yang bisa mengubah gajimu kapan saja, menilaimu berdasarkan kriteria yang tidak pernah dijelaskan, dan memecatmu tanpa memberi kesempatan untuk membela diri. Kita akan menyebutnya atasan yang buruk. Tapi ketika atasan itu berupa aplikasi, kita menyebutnya kemitraan.
Kami ini bos, katanya. Tapi bos kok nggak bisa nentuin harga sendiri, Mas?
Status Mitra dan Perlindungan yang Hilang
Karena berstatus mitra, banyak pengemudi tidak mendapat perlindungan yang lazim dimiliki pekerja: upah minimum, jaminan sosial yang ditanggung pemberi kerja, dan pesangon. Perdebatan soal status pekerja platform terjadi di banyak negara. Di Inggris, misalnya, Mahkamah Agung pada 2021 memutuskan bahwa pengemudi Uber berstatus pekerja, bukan wiraswasta.
Perdebatan serupa juga terjadi di tempat lain. Uni Eropa membahas aturan khusus untuk pekerja platform digital, termasuk soal transparansi algoritma dan penentuan status kerja. Di Indonesia, organisasi pengemudi berkali-kali menggelar aksi untuk menuntut tarif yang lebih adil dan kejelasan status. Pertanyaannya sama di mana-mana: kalau perusahaan mengendalikan hampir semua aspek pekerjaan, apakah pengemudi benar-benar mitra yang setara?
Siapa yang Menanggung Risiko
Dalam model kemitraan, sebagian besar risiko berpindah ke pengemudi. Motor dibeli sendiri, bensin dibayar sendiri, servis ditanggung sendiri. Kalau terjadi kecelakaan, biaya pengobatan dan perbaikan sering kali juga ditanggung sendiri, meski beberapa aplikasi menyediakan asuransi terbatas. Kalau sakit dan tidak bisa bekerja, tidak ada penghasilan.
Di sisi lain, keuntungan dari skala bisnis yang besar mengalir ke perusahaan dan investornya. Ini bukan berarti perusahaan aplikasi tidak menanggung risiko apa pun. Mereka juga menghadapi persaingan ketat dan tekanan untuk menghasilkan keuntungan. Tapi ketimpangan pembagian risiko ini layak dipertanyakan.
Kita sebagai Konsumen
Sebagai penumpang, kita menikmati tarif murah dan layanan cepat. Pertanyaan kritisnya: siapa yang menanggung selisih kemurahan itu? Kadang jawabannya adalah jam tidur pengemudi. Memberi tip dan bintang lima memang membantu, tapi persoalan sebenarnya ada pada desain sistem dan regulasi.
Sistem rating juga layak dicermati. Kita memberi bintang dengan mudah, kadang berdasarkan hal-hal di luar kendali pengemudi: macet, cuaca, atau suasana hati kita sendiri. Tapi bagi pengemudi, rating yang turun bisa berarti lebih sedikit pesanan atau bahkan akun yang dibekukan. Satu ketukan jari kita bisa berdampak pada penghasilan seseorang.
Teknologi Tidak Netral
Kita sering menganggap teknologi sebagai sesuatu yang netral: alat yang bisa dipakai untuk kebaikan atau keburukan, tergantung siapa yang memakainya. Tapi algoritma dirancang oleh manusia, dengan tujuan tertentu. Algoritma yang dirancang untuk memaksimalkan keuntungan perusahaan akan menghasilkan keputusan yang berbeda dengan algoritma yang dirancang untuk menjamin penghasilan layak bagi pengemudi.
Artinya, kondisi pengemudi ojol bukan hasil yang tak terelakkan dari kemajuan teknologi. Ia hasil dari pilihan desain, model bisnis, dan regulasi. Dan karena ia hasil pilihan, ia bisa diubah. Transparansi algoritma, batas jam kerja, tarif minimum yang layak, dan jaminan sosial adalah beberapa hal yang bisa didorong melalui regulasi.
Penutup
Teknologi mengubah cara kita bekerja, tapi pertanyaan lamanya tetap relevan: siapa yang memegang kendali, dan siapa yang menanggung risiko? Kebebasan sejati bukan hanya bebas memilih kapan menyalakan aplikasi, tapi juga bebas dari rasa takut kehilangan nafkah karena satu keputusan algoritma.