Patah Hati dan Ilusi Orang yang Tepat
Kita sibuk mencari orang yang tepat, seolah ia sudah jadi dan tinggal ditemukan. Bagaimana kalau orang yang tepat justru dibentuk, bukan dicari?
AuriMori
5 menit baca
Setelah putus, kalimat penghibur yang paling sering kita dengar adalah "berarti dia bukan orang yang tepat." Kalimat ini menenangkan, tapi diam-diam menyimpan asumsi yang perlu diperiksa: bahwa di luar sana ada satu orang yang sudah pas, seperti kepingan puzzle yang tinggal dipasang.
Aku sendiri pernah memegang asumsi itu erat-erat. Setiap kali hubungan berakhir, aku menghibur diri dengan berpikir bahwa orang yang tepat masih menunggu di suatu tempat. Tapi setelah beberapa kali patah hati, aku mulai curiga. Kalau setiap orang ternyata bukan orang yang tepat, mungkin masalahnya bukan pada orangnya. Mungkin masalahnya pada cara aku membayangkan "tepat".
Mitos Belahan Jiwa
Dalam Symposium karya Plato, tokoh Aristophanes bercerita bahwa manusia dulu berkepala dua dan berkaki empat, lalu dibelah dua oleh Zeus. Sejak itu kita menghabiskan hidup untuk mencari belahan kita. Ceritanya indah, tapi sebagai pedoman hidup ia berbahaya, karena setiap gesekan akan dibaca sebagai tanda salah orang.
Mitos ini hidup dalam banyak bentuk di sekitar kita. Lagu-lagu cinta, film romantis, dan bahkan nasihat orang tua sering mengulang gagasan yang sama: ada satu orang yang ditakdirkan untukmu, dan ketika kamu menemukannya, kamu akan tahu. Gagasan ini membuat pencarian pasangan terasa seperti perburuan harta karun. Tugas kita hanya menemukan, bukan membangun.
Masalahnya, kalau kita percaya bahwa orang yang tepat sudah jadi sejak awal, maka setiap konflik menjadi bukti bahwa kita salah pilih. Perbedaan pendapat soal keuangan? Mungkin dia bukan jodohku. Bosan setelah tiga tahun? Pasti bukan belahan jiwa. Dengan cara pandang ini, hubungan menjadi sangat rapuh, karena tidak ada hubungan yang bebas konflik.
Takdir atau Pertumbuhan
Psikolog C. Raymond Knee meneliti dua cara pandang dalam hubungan: keyakinan takdir, bahwa pasangan itu cocok atau tidak cocok sejak awal, dan keyakinan pertumbuhan, bahwa kecocokan dibangun seiring waktu. Orang dengan keyakinan takdir cenderung lebih cepat menyerah saat konflik datang. Orang dengan keyakinan pertumbuhan lebih mungkin melihat konflik sebagai bahan belajar.
Temuan ini masuk akal kalau dipikirkan. Orang yang percaya pada takdir akan bertanya, "apakah dia orang yang tepat?" ketika masalah datang. Orang yang percaya pada pertumbuhan akan bertanya, "apa yang bisa kami pelajari dari masalah ini?" Pertanyaan pertama mengarah pada keputusan bertahan atau pergi. Pertanyaan kedua mengarah pada perbaikan.
Ini tidak berarti semua hubungan bisa dan harus dipertahankan. Ada hubungan yang memang tidak sehat, dan ada perbedaan nilai yang terlalu mendasar untuk dijembatani. Tapi cara pandang pertumbuhan membantu kita membedakan antara masalah yang bisa diselesaikan dan masalah yang memang tanda untuk berpisah, alih-alih menganggap semua masalah sebagai tanda salah orang.
Kecocokan adalah pencapaian cinta, bukan prasyaratnya.
Patah Hati sebagai Data, Bukan Vonis
Patah hati menyakitkan, dan rasa sakit itu valid. Tapi setelah tangis reda, patah hati bisa dibaca sebagai data.
Setiap hubungan yang berakhir menyimpan informasi tentang diri kita: apa yang kita butuhkan, apa yang kita toleransi, dan pola apa yang terus berulang. Kalau kita hanya menyimpulkan "dia bukan orang yang tepat", kita kehilangan semua informasi itu. Kita akan membawa pola yang sama ke hubungan berikutnya, lalu heran kenapa ceritanya berakhir dengan cara yang mirip.
Memberi Waktu untuk Berduka
Membaca patah hati sebagai data tidak berarti kita harus langsung menganalisisnya. Ada waktunya untuk sedih, marah, dan merindukan. Perasaan-perasaan itu bukan kelemahan, melainkan bagian alami dari kehilangan. Memaksa diri untuk segera "move on" atau langsung mencari pelajaran justru bisa membuat luka tidak sembuh dengan baik.
Beri dirimu waktu. Bicaralah dengan teman yang bisa mendengarkan tanpa menghakimi. Lakukan hal-hal yang membuatmu merasa utuh kembali. Setelah perasaan mulai tenang, barulah pertanyaan-pertanyaan reflektif tadi bisa diajukan dengan kepala yang lebih jernih.
Dari Mencari Menjadi Membangun
Kalau orang yang tepat bukan ditemukan, lalu apa? Mungkin pertanyaannya perlu diubah. Alih-alih bertanya "di mana orang yang tepat untukku?", kita bisa bertanya "siapa orang yang mau membangun sesuatu bersamaku, dan apakah aku siap membangun bersamanya?"
Pertanyaan ini menggeser fokus dari kecocokan instan ke kesediaan untuk bertumbuh. Ia juga mengembalikan sebagian tanggung jawab kepada diri kita sendiri. Kita tidak lagi menunggu orang yang sempurna, melainkan berusaha menjadi pasangan yang lebih baik, sambil mencari orang yang juga mau berusaha.
Kualitas yang Lebih Penting daripada Kecocokan
Kalau kecocokan bisa dibangun, maka yang perlu kita cari bukan kecocokan sempurna, melainkan kualitas-kualitas yang memungkinkan kecocokan itu tumbuh. Kesediaan untuk berkomunikasi dengan jujur. Kemampuan untuk meminta maaf dan memaafkan. Rasa ingin tahu terhadap pasangan. Kesediaan untuk berubah ketika diperlukan. Dan yang paling penting, nilai-nilai dasar yang sejalan.
Kualitas-kualitas ini tidak selalu terlihat di kencan pertama. Mereka baru terlihat ketika ada masalah, ketika ada perbedaan, ketika salah satu sedang dalam kondisi terburuknya. Mungkin itulah kenapa debar di awal hubungan bukan ukuran yang baik. Yang lebih penting adalah bagaimana dua orang melewati badai pertama mereka.
Penutup
Mungkin tidak ada orang yang tepat. Yang ada adalah dua orang yang cukup baik dan mau terus belajar menjadi tepat bagi satu sama lain. Itu kurang puitis dibanding belahan jiwa, tapi jauh lebih mungkin dijalani.