Apa Itu Dogma? Keyakinan yang Tidak Pernah Kita Periksa
Dogma tidak hanya ada di rumah ibadah. Ia hidup di kantor, keluarga, dan politik. Apa itu dogma, kenapa ia terasa nyaman, dan bagaimana mengenalinya?
AuriMori
5 menit baca
Kata "dogma" biasanya membuat orang membayangkan agama. Padahal dogma ada di mana-mana: "anak laki-laki tidak boleh menangis", "kerja keras pasti sukses", "orang bertato pasti nakal", "belum menikah di usia tiga puluh berarti hidupmu gagal". Kita jarang menyebutnya dogma karena kita tidak merasa sedang memegang keyakinan. Kita merasa sedang menyebut fakta.
Aku baru menyadari ini ketika seorang teman bertanya kenapa aku begitu yakin bahwa kuliah di kampus negeri lebih baik daripada kampus swasta. Aku membuka mulut untuk menjawab, lalu sadar bahwa aku tidak punya alasan selain "semua orang bilang begitu". Keyakinan itu sudah kubawa sejak SMA, tidak pernah kuperiksa, dan sudah memengaruhi cara aku menilai orang lain.
Pengertian Dogma
Secara sederhana, dogma adalah keyakinan yang diterima sebagai kebenaran mutlak dan tidak boleh dipertanyakan. Kata ini berasal dari bahasa Yunani dogma, yang berarti pendapat atau ketetapan. Dalam teologi, istilah ini punya makna teknis sebagai ajaran resmi suatu agama. Dalam percakapan sehari-hari, kata ini lebih merujuk pada sikap: keyakinan yang dikunci dari pemeriksaan.
Ciri utama dogma bukan isinya, melainkan cara kita memegangnya. Keyakinan yang benar pun bisa dipegang secara dogmatis, dan keyakinan yang keliru pun bisa dipegang secara terbuka.
Contohnya begini. Seseorang bisa percaya bahwa bumi itu bulat, sebuah fakta yang sangat kuat buktinya, tapi memegangnya secara dogmatis: ia tidak tahu buktinya, tidak bisa menjelaskannya, dan hanya percaya karena diberi tahu. Sebaliknya, seseorang bisa memegang keyakinan yang ternyata keliru, tapi dengan sikap terbuka: ia tahu alasannya, tahu kelemahannya, dan siap berubah jika ada bukti baru. Dalam jangka panjang, orang kedua lebih mungkin sampai pada kebenaran.
Dari Mana Dogma Datang
Sebagian besar dogma tidak kita pilih secara sadar. Kita menyerapnya dari keluarga, sekolah, lingkungan pergaulan, dan media yang kita konsumsi sejak kecil. Anak-anak belajar dengan meniru, dan meniru adalah cara belajar yang sangat efisien. Masalahnya, bersama pengetahuan yang berguna, kita juga ikut menyerap prasangka, mitos, dan aturan yang sebenarnya tidak punya dasar.
Dogma juga lahir dari pengalaman yang digeneralisasi. Seseorang yang pernah ditipu oleh satu pedagang dari daerah tertentu bisa tumbuh dengan keyakinan bahwa semua orang dari daerah itu licik. Satu pengalaman, ditambah cerita-cerita serupa yang terdengar dari orang lain, menjadi "fakta" yang tidak pernah diperiksa ulang.
Kenapa Dogma Terasa Nyaman
Otak kita menyukai jalan pintas. Dogma menghemat energi karena kita tidak perlu menimbang ulang setiap hal. Dogma juga memberi rasa memiliki: memegang keyakinan yang sama dengan kelompok membuat kita diterima. Mempertanyakannya berarti berisiko dikucilkan.
Psikologi menyebut kecenderungan mencari informasi yang membenarkan keyakinan kita sebagai bias konfirmasi. Ditambah lagi, ketika keyakinan kita ditantang, kita sering merasakannya sebagai serangan terhadap diri sendiri. Itulah kenapa debat soal keyakinan jarang berakhir dengan kalimat "oh iya, kamu benar."
Ada pula yang disebut disonansi kognitif, rasa tidak nyaman ketika kita memegang dua hal yang bertentangan, misalnya keyakinan kita dan bukti yang membantahnya. Cara termudah untuk menghilangkan rasa tidak nyaman itu sering kali bukan mengubah keyakinan, melainkan meremehkan buktinya. "Ah, itu kan penelitian orang Barat." "Itu kasus khusus." "Media itu pasti dibayar."
Akar persoalannya adalah bahwa di dunia modern orang bodoh begitu yakin, sementara orang cerdas penuh keraguan.
Dogma di Tempat yang Tidak Kita Duga
Dogma tidak hanya hidup di ruang ibadah. Di kantor, ada dogma seperti "kita selalu melakukannya dengan cara ini", kalimat yang membunuh banyak gagasan baru sebelum sempat diuji. Di dunia kesehatan, ada dogma diet yang berganti setiap beberapa tahun tapi selalu dipegang dengan keyakinan penuh. Di politik, ada dogma bahwa kelompok kita selalu benar dan kelompok lawan selalu jahat.
Bahkan sains pun tidak kebal. Sejarah ilmu pengetahuan mencatat banyak gagasan yang awalnya ditolak oleh komunitas ilmuwan karena bertentangan dengan pandangan yang sudah mapan, sebelum akhirnya diterima ketika buktinya menumpuk. Bedanya, sains punya mekanisme untuk mengoreksi diri: eksperimen, replikasi, dan tinjauan sejawat. Dogma, sebaliknya, justru dirancang untuk menolak koreksi.
Tanda-Tanda Kita Sedang Dogmatis
Ada beberapa tanda yang bisa kita periksa pada diri sendiri. Kita tidak bisa menjelaskan kenapa kita percaya selain "memang begitu". Kita tidak pernah membayangkan bukti apa yang bisa membuat kita berubah pikiran. Kita marah sebelum argumen orang lain selesai. Kita menilai orang yang berbeda pendapat sebagai bodoh atau jahat, bukan sekadar berbeda.
Tes sederhana yang biasa kupakai: bisakah aku menjelaskan pandangan lawan bicaraku dengan cara yang membuatnya mengangguk setuju? Kalau tidak bisa, mungkin aku belum memahaminya. Aku baru menolaknya.
Pertanyaan terakhir itu mungkin yang paling jujur. Kalau kita tidak bisa mengingat kapan terakhir kali berubah pikiran, ada dua kemungkinan: kita selalu benar, atau kita tidak pernah benar-benar memeriksa. Kemungkinan pertama hampir mustahil.
Dogma Tidak Selalu Jahat, tapi Selalu Perlu Diperiksa
Tidak semua keyakinan harus diuji setiap hari. Hidup akan melelahkan kalau begitu, dan kita memang butuh pegangan. Bedanya, pegangan yang sehat boleh dilepas lalu digenggam lagi setelah diperiksa. Dogma yang tidak sehat adalah pegangan yang dicengkeram terlalu erat sampai tangan kita kebas dan tidak bisa lagi meraih hal lain.
Memeriksa keyakinan juga tidak selalu berujung pada meninggalkannya. Sering kali kita justru menemukan bahwa keyakinan lama kita punya dasar yang kuat, dan pemeriksaan itu membuat kita memegangnya dengan lebih mantap. Bedanya, sekarang kita memegangnya karena paham, bukan karena takut.
Cara Mulai Membongkar Dogma
Mulailah dari hal kecil. Pilih satu keyakinan yang tidak terlalu menyentuh identitasmu, misalnya soal makanan, kebiasaan, atau penilaian terhadap profesi tertentu. Tanyakan dari mana kamu mendapatkannya. Cari satu atau dua sumber yang berpendapat sebaliknya, dan baca dengan niat memahami. Perhatikan reaksi tubuhmu: apakah kamu merasa terancam, kesal, atau penasaran?
Setelah terbiasa, kamu bisa naik ke keyakinan yang lebih dalam. Prosesnya tidak nyaman, dan memang tidak seharusnya nyaman. Tapi setiap kali kita berhasil memeriksa satu keyakinan dengan jujur, kita menjadi sedikit lebih bebas.
Penutup
Melawan dogma bukan berarti tidak memercayai apa pun. Itu berarti percaya dengan mata terbuka. Mulailah dari satu keyakinan kecil yang selama ini kamu anggap fakta, lalu tanyakan: dari mana aku mendapatkannya, dan apa yang terjadi kalau ternyata keliru?