AuriMori

Beragama dengan Akal: Apakah Bertanya Berarti Kurang Iman?

Sejak kecil kita diajari bahwa terlalu banyak bertanya soal agama itu berbahaya. Benarkah iman dan berpikir kritis harus saling meniadakan?

AuriMori

AuriMori

5 menit baca

Beragama dengan Akal: Apakah Bertanya Berarti Kurang Iman?

Waktu kecil aku pernah bertanya kepada guru mengaji: kenapa Tuhan menciptakan orang yang nantinya masuk neraka? Jawabannya singkat, "Jangan banyak tanya, nanti imanmu goyah." Pertanyaan itu kusimpan bertahun-tahun, bukan karena sudah terjawab, tapi karena takut.

Lama-lama aku sadar bahwa banyak teman sebayaku menyimpan pertanyaan serupa. Ada yang bertanya kenapa doanya tidak dikabulkan, ada yang bingung dengan ayat yang terasa bertentangan, ada yang heran kenapa orang yang rajin beribadah bisa berbuat jahat. Sebagian besar dari kami tidak pernah mengucapkannya keras-keras. Tulisan ini lahir dari rasa takut itu: apakah beragama dan berpikir kritis memang bermusuhan?

Pertanyaan tidak harus ditinggalkan di depan pintu rumah ibadah.
Pertanyaan tidak harus ditinggalkan di depan pintu rumah ibadah.

Tradisi Bertanya di Dalam Agama Itu Sendiri

Yang jarang diajarkan kepada kita: banyak tradisi agama justru tumbuh dari pertanyaan. Al-Qur'an berulang kali memakai ungkapan seperti afala ta'qilun, "apakah kamu tidak berpikir?" Ibnu Rusyd, filsuf dan hakim Andalusia abad ke-12, menulis bahwa filsafat dan syariat tidak bertentangan. Dalam tradisi Kristen ada rumusan Anselmus dari Canterbury, fides quaerens intellectum: iman yang mencari pemahaman. Dalam Buddhisme, Kalama Sutta mengajak orang untuk tidak menerima ajaran hanya karena tradisi atau otoritas, melainkan mengujinya sendiri.

Ayat

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

“Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca Kitab (Taurat)? Tidakkah kamu mengerti?”
— QS. Al-Baqarah [2]: 44

Artinya, kebiasaan bertanya bukan barang impor yang asing bagi agama. Ia sudah ada di dalamnya, hanya sering tertutup oleh cara mengajar yang lebih menekankan hafalan dan kepatuhan.

Kisah-kisah dalam kitab suci pun banyak yang berisi pertanyaan. Nabi Ibrahim dalam tradisi Islam digambarkan merenungkan bintang, bulan, dan matahari sebelum sampai pada keyakinannya. Ia juga meminta diperlihatkan bagaimana Tuhan menghidupkan yang mati, bukan karena tidak percaya, melainkan agar hatinya tenang. Pertanyaan, dalam kisah ini, bukan lawan dari iman. Ia jalan menuju ketenangan iman.

Tradisi intelektual agama-agama besar dipenuhi perdebatan, tafsir, dan pertanyaan yang tidak selalu selesai.
Tradisi intelektual agama-agama besar dipenuhi perdebatan, tafsir, dan pertanyaan yang tidak selalu selesai.

Sejarah yang Lebih Ramai daripada yang Kita Kira

Kalau kita membuka sejarah pemikiran keagamaan, yang kita temukan bukan keseragaman, melainkan perdebatan yang ramai. Para ulama berbeda pendapat tentang hukum, tafsir, dan teologi, dan perbedaan itu dicatat dengan cermat dalam kitab-kitab yang dibaca hingga kini. Ada mazhab yang menekankan teks, ada yang memberi ruang lebih besar bagi pertimbangan akal. Para teolog Kristen abad pertengahan juga menulis karya-karya panjang yang dibuka dengan keberatan terhadap posisi mereka sendiri sebelum menjawabnya.

Tradisi ini menunjukkan bahwa iman yang matang tidak takut pada keberatan. Justru keberatan dianggap penting, karena tanpa keberatan, jawaban tidak pernah benar-benar diuji. Yang berbahaya bukan pertanyaan, melainkan budaya yang membuat orang malu untuk bertanya.

Kutipan

Fides quaerens intellectum.

Iman yang mencari pemahaman.

— Anselmus dari Canterbury, Proslogion

Bertanya untuk Memahami, Bukan untuk Menjatuhkan

Berpikir kritis tidak sama dengan sinis. Ada pertanyaan yang lahir dari keinginan memahami, ada pula yang lahir dari keinginan menang debat. Yang pertama memperdalam iman, atau setidaknya memperdalam kejujuran. Yang kedua sering hanya mempertebal ego, baik pada orang yang beriman maupun yang tidak.

Di media sosial, kita sering melihat jenis pertanyaan kedua. Pertanyaan diajukan bukan untuk mendengar jawaban, tapi untuk memancing kemarahan, mengumpulkan pengikut, atau membuktikan bahwa lawan bicara bodoh. Pertanyaan seperti itu memang merusak, tapi bukan karena ia pertanyaan. Ia merusak karena niatnya bukan mencari, melainkan menyerang.

Bedanya bisa dirasakan dari cara kita merespons jawaban. Orang yang bertanya untuk memahami akan mendengarkan, menimbang, dan mungkin bertanya lagi. Orang yang bertanya untuk menjatuhkan sudah menyiapkan bantahan bahkan sebelum jawaban selesai diucapkan.

Diskusi yang sehat dimulai dari kesediaan untuk mendengar, bukan dari keinginan untuk menang.
Diskusi yang sehat dimulai dari kesediaan untuk mendengar, bukan dari keinginan untuk menang.

Yang Sebenarnya Dijaga oleh Larangan Bertanya

Kalau pertanyaan begitu ditakuti, mungkin yang sedang dijaga bukan iman, melainkan otoritas. Ketika seseorang dilarang bertanya, yang terlindungi sering kali posisi orang yang menjawab, bukan kebenaran itu sendiri. Iman yang tidak boleh diperiksa mudah dipakai untuk kepentingan lain, entah politik, bisnis, atau kontrol sosial. Hoaks yang dibungkus dalil menyebar cepat justru karena kita terbiasa untuk tidak mengecek.

Kita sudah sering melihat akibatnya. Investasi bodong yang menjanjikan keuntungan berlipat dengan label syariah. Pengobatan alternatif yang mengklaim berdasar ayat tapi membahayakan nyawa. Seruan politik yang memakai bahasa agama untuk memecah tetangga. Semua itu tumbuh subur di lingkungan yang menganggap bertanya sebagai tanda kurang iman.

Iman yang pernah diuji pertanyaan, menurutku, lebih kokoh daripada iman yang hanya dijaga dengan larangan.

Rendah Hati ke Dua Arah

Berpikir kritis juga menuntut kerendahan hati terhadap batas akal. Ada pertanyaan yang mungkin tidak terjawab dalam satu kehidupan: soal makna, soal penderitaan, soal apa yang terjadi setelah mati. Orang beriman dan orang yang tidak beriman sama-sama berdiri di tepi misteri itu. Yang membedakan sikap dewasa dari sikap fanatik adalah kesediaan untuk berkata, "aku belum tahu."

Kerendahan hati ini berlaku ke dua arah. Orang beriman perlu rendah hati untuk mengakui bahwa pemahamannya terhadap ajaran bisa keliru. Orang yang skeptis perlu rendah hati untuk mengakui bahwa akal juga punya batas, dan bahwa banyak hal dalam hidup tidak bisa diukur di laboratorium. Fanatisme bisa tumbuh di kedua sisi.

Di hadapan pertanyaan-pertanyaan terbesar, orang beriman dan orang skeptis sama-sama berdiri di tepi misteri.
Di hadapan pertanyaan-pertanyaan terbesar, orang beriman dan orang skeptis sama-sama berdiri di tepi misteri.

Untuk Para Pengajar dan Orang Tua

Kalau kamu seorang guru, ustaz, pendeta, atau orang tua, mungkin ada satu hal yang bisa dicoba: ketika anak bertanya sesuatu yang sulit, jangan buru-buru menutupnya. Katakan, "pertanyaan bagus, ayo kita cari tahu bersama." Tidak tahu jawabannya bukan aib. Yang menjadi luka justru ketika anak belajar bahwa rasa ingin tahunya adalah dosa.

Anak yang dibiarkan bertanya mungkin akan menempuh jalan yang berliku. Tapi anak yang dilarang bertanya tidak akan berhenti bertanya. Ia hanya akan berhenti bertanya kepadamu, dan mencari jawabannya di tempat lain yang belum tentu lebih bijak.

Penutup

Pertanyaan masa kecilku belum sepenuhnya terjawab. Tapi aku tidak lagi takut menyimpannya. Aku belajar bahwa iman bisa berjalan bersama pertanyaan, seperti dua kaki yang bergantian melangkah. Dan mungkin, Tuhan yang memberi kita akal tidak keberatan kita memakainya.

AuriMori

Blog pemikiran kritis tentang hal-hal yang kita lewati setiap hari: parkir liar, gang sempit, cinta, agama, dan dogma yang jarang diperiksa.

Kembali ke atas
© 2026 AuriMori. Hak cipta dilindungi. Ditulis pelan-pelan, dibaca sambil ngopi.