Toleransi Bukan Berarti Setuju
Banyak yang menolak toleransi karena mengira itu berarti mengakui semua keyakinan benar. Padahal toleransi justru dibutuhkan karena kita berbeda.
AuriMori
4 menit baca
Setiap menjelang hari raya, perdebatan lama muncul lagi di linimasa: boleh atau tidak mengucapkan selamat kepada pemeluk agama lain? Di balik perdebatan itu sering tersimpan kesalahpahaman tentang arti toleransi itu sendiri.
Aku tumbuh di sebuah gang yang dihuni keluarga dengan agama berbeda-beda. Tetangga sebelah kiri merayakan Natal, tetangga di depan merayakan Nyepi, dan keluargaku merayakan Lebaran. Kami saling mengantar makanan di hari raya masing-masing, saling menjaga rumah ketika ada yang mudik. Tidak ada yang merasa imannya berkurang karena itu. Baru ketika dewasa aku sadar bahwa yang kami jalani sehari-hari ternyata menjadi bahan perdebatan sengit di tempat lain.
Toleransi Mengandaikan Perbedaan
Kata toleransi berasal dari bahasa Latin tolerare, yang berarti menahan atau menanggung. Kita tidak perlu menoleransi hal yang kita setujui. Toleransi justru dibutuhkan karena ada hal yang tidak kita setujui, tapi kita memilih untuk hidup berdampingan dengannya secara damai.
Jadi toleransi tidak menuntut seseorang melepaskan keyakinannya atau menganggap semua ajaran sama. Ia menuntut sesuatu yang lebih sederhana sekaligus lebih sulit: menghormati hak orang lain untuk berbeda.
Di sinilah kesalahpahaman sering muncul. Sebagian orang menolak toleransi karena mengira toleransi berarti relativisme, pandangan bahwa semua keyakinan sama benarnya. Sebagian lain justru memakai kata toleransi untuk menuntut orang lain menyetujui pandangan mereka. Keduanya keliru. Toleransi tidak menuntut persetujuan. Ia menuntut penghormatan.
Antara Keyakinan dan Perlakuan
Kita bisa yakin bahwa kebenaran ada di pihak kita sambil tetap memperlakukan tetangga yang berbeda iman dengan adil: menolongnya saat sakit, tidak mempersulit ibadahnya, tidak merendahkan keyakinannya. Keyakinan adalah urusan hati. Perlakuan adalah urusan bersama.
Pembedaan ini penting karena banyak konflik terjadi ketika keyakinan dicampuradukkan dengan perlakuan. Seseorang merasa bahwa karena ia yakin agamanya benar, ia berhak mempersulit pendirian rumah ibadah agama lain. Atau karena ia yakin pandangan politiknya benar, ia berhak menghina pendukung pihak lain. Padahal keyakinan setulus apa pun tidak memberi hak untuk memperlakukan orang lain secara tidak adil.
لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ
“Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.”
Ayat pendek ini sering dikutip dalam diskusi tentang toleransi. Ia menegaskan perbedaan dengan jelas, tidak ada pencampuran keyakinan, tapi juga menegaskan bahwa perbedaan itu bisa dijalani berdampingan. Kedua pihak punya ruangnya masing-masing.
Bhinneka Tunggal Ika
Semboyan Bhinneka Tunggal Ika diambil dari Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular, yang ditulis dalam konteks hidup berdampingannya ajaran Siwa dan Buddha. Sejak awal, semboyan itu bukan ajakan untuk menyeragamkan, melainkan untuk bersatu tanpa menghapus perbedaan.
Bhinneka tunggal ika, tan hana dharma mangrwa.
Berbeda-beda tetapi tetap satu, tidak ada kebenaran yang mendua.
Menarik bahwa para pendiri bangsa memilih semboyan dari teks kuno yang lahir di tengah keberagaman keyakinan. Mereka paham bahwa negeri yang terdiri dari ribuan pulau, ratusan suku, dan banyak agama tidak mungkin dipersatukan dengan penyeragaman. Persatuan hanya mungkin jika perbedaan diakui dan dihormati.
Batas Toleransi
Apakah toleransi berarti menerima segalanya? Tidak juga. Filsuf Karl Popper pernah menulis tentang paradoks toleransi: jika masyarakat bersikap toleran tanpa batas, termasuk kepada mereka yang ingin menghancurkan toleransi itu sendiri, maka toleransi akan lenyap. Masyarakat yang toleran berhak membela dirinya dari gerakan yang ingin memaksakan keseragaman dengan kekerasan.
Batas ini perlu dipahami dengan hati-hati. Ia bukan izin untuk menolak siapa pun yang berbeda pendapat dengan kita. Ia berlaku pada tindakan yang mengancam hak orang lain untuk hidup dan berkeyakinan: kekerasan, persekusi, dan hasutan kebencian. Berbeda pendapat, bahkan dengan keras, masih berada dalam wilayah yang perlu ditoleransi. Mengancam dan menyakiti sudah berada di luarnya.
Toleransi dalam Keseharian
Toleransi tidak hanya diuji dalam perdebatan besar. Ia diuji dalam hal-hal kecil sehari-hari. Ketika tetangga yang berbeda agama mengadakan acara dan suaranya terdengar sampai rumah kita. Ketika rekan kerja meminta izin untuk beribadah di tengah jam kerja. Ketika anak kita berteman dengan anak dari keluarga yang keyakinannya berbeda.
Dalam momen-momen kecil itulah toleransi menjadi nyata atau tidak. Kita bisa memilih untuk menggerutu, mempersulit, atau menjaga jarak. Atau kita bisa memilih untuk memahami, memberi ruang, dan tetap bersikap hangat. Pilihan-pilihan kecil ini, jika dikumpulkan dari jutaan orang, menentukan seperti apa wajah masyarakat kita.
Mengajarkan Toleransi kepada Anak
Anak-anak belajar toleransi bukan dari ceramah, melainkan dari melihat bagaimana orang dewasa di sekitarnya bersikap. Anak yang melihat orang tuanya berbicara dengan hormat tentang tetangga yang berbeda agama akan belajar bahwa perbedaan bukan ancaman. Anak yang mendengar orang tuanya mengejek kelompok lain akan belajar sebaliknya.
Kita juga bisa membantu anak memahami bahwa memiliki keyakinan yang kuat dan menghormati orang lain bukan dua hal yang bertentangan. Kita bisa mengajarkan agama kita dengan sungguh-sungguh sambil mengajarkan bahwa teman yang berbeda agama juga layak dihormati dan disayangi.
Penutup
Toleransi bukan kompromi iman. Ia adalah kesepakatan bahwa kita boleh tidak sepakat tanpa harus saling menyakiti. Di negeri seberagam ini, toleransi bukan kemewahan. Ia syarat agar kita bisa tinggal bersama.