AuriMori

Kenapa Kita Bangga Menjadi Sibuk?

"Lagi sibuk banget nih" sering diucapkan dengan nada mengeluh tapi wajah bangga. Kapan kesibukan berubah dari keadaan menjadi identitas?

AuriMori

AuriMori

5 menit baca

Kenapa Kita Bangga Menjadi Sibuk?

Tanyakan kabar kepada teman, jawabannya hampir selalu sama: "Sibuk." Diucapkan sambil mengeluh, tapi terselip sedikit kebanggaan di sana. Seolah sibuk adalah bukti bahwa kita penting.

Aku juga begitu. Beberapa tahun lalu, aku merasa ada yang salah kalau kalenderku kosong. Akhir pekan tanpa rencana terasa seperti kegagalan. Ketika teman bertanya kabar dan aku menjawab "biasa saja, lagi santai", aku merasa perlu menambahkan penjelasan, seolah santai adalah sesuatu yang memalukan. Butuh waktu lama bagiku untuk menyadari bahwa aku tidak sedang hidup, aku sedang mengisi kotak-kotak di kalender.

Jadwal yang penuh kerap dipamerkan seperti medali.
Jadwal yang penuh kerap dipamerkan seperti medali.

Sibuk sebagai Simbol Status

Silvia Bellezza dan rekan-rekannya meneliti fenomena ini dan menemukan bahwa di sebagian masyarakat, terutama di Amerika Serikat, jadwal yang padat dan minimnya waktu luang dipersepsikan sebagai simbol status. Dulu orang kaya memamerkan waktu luangnya. Sekarang banyak orang memamerkan jadwalnya yang penuh.

Pergeseran ini menarik. Pada akhir abad ke-19, ekonom Thorstein Veblen menulis tentang "kelas santai", kelompok orang kaya yang memamerkan status mereka lewat waktu luang dan konsumsi yang mencolok. Bagi mereka, tidak perlu bekerja adalah tanda kemakmuran. Seabad kemudian, logikanya terbalik. Kesibukan menjadi tanda bahwa seseorang dibutuhkan, dicari, dan bernilai di pasar kerja.

Di Indonesia, budaya ini juga terasa, terutama di kota-kota besar. Kita bangga bercerita tentang lembur sampai larut, tentang rapat yang berderet, tentang pesan kerja yang dibalas di tengah liburan. Media sosial ikut memperkuatnya: foto laptop di kafe pada hari Minggu, unggahan tentang "hustle", dan cerita tentang tidur hanya empat jam demi mengejar mimpi.

Laptop yang menyala di kafe pada malam hari: pemandangan yang sering dipamerkan sebagai tanda kesungguhan.
Laptop yang menyala di kafe pada malam hari: pemandangan yang sering dipamerkan sebagai tanda kesungguhan.

Sibuk Tidak Sama dengan Bermakna

Masalahnya, sibuk tidak selalu berarti produktif, apalagi bermakna. Kita bisa sibuk membalas pesan seharian tanpa menyelesaikan satu hal pun yang penting. Kesibukan kadang menjadi tempat bersembunyi dari pertanyaan yang lebih menakutkan: sebenarnya aku sedang menuju ke mana?

Penulis Cal Newport membedakan antara pekerjaan dangkal dan pekerjaan mendalam. Pekerjaan dangkal adalah tugas-tugas yang tidak menuntut banyak konsentrasi: membalas surel, menghadiri rapat rutin, mengurus administrasi. Pekerjaan mendalam adalah tugas yang menuntut fokus penuh dan menghasilkan nilai yang sulit ditiru. Banyak orang yang merasa sangat sibuk ternyata menghabiskan sebagian besar waktunya untuk pekerjaan dangkal.

Kesibukan juga bisa menjadi pelarian. Selama kita sibuk, kita tidak perlu memikirkan hubungan yang retak, mimpi yang tertunda, atau rasa hampa yang muncul di malam hari. Kesibukan memberi kita alasan untuk tidak berhenti dan bertanya. Dan karena masyarakat memuji kesibukan, pelarian ini terasa terhormat.

Kutipan

Bukan waktu hidup kita yang singkat, melainkan kita yang banyak menyia-nyiakannya.

— Seneca, De Brevitate Vitae (terjemahan bebas)

Pesan Seneca yang Masih Relevan

Seneca, filsuf Stoa dari Romawi, menulis De Brevitate Vitae atau Tentang Singkatnya Hidup sekitar dua ribu tahun lalu. Ia mengamati orang-orang di zamannya yang sibuk mengejar jabatan, kekayaan, dan pengakuan, lalu terkejut ketika menyadari bahwa hidup mereka hampir habis tanpa pernah benar-benar dijalani. Menurut Seneca, orang-orang yang paling sibuk justru paling sedikit hidup.

Yang menarik, Seneca tidak menganjurkan kemalasan. Ia menganjurkan kesadaran. Waktu adalah satu-satunya hal yang benar-benar kita miliki, tapi kita memberikannya kepada siapa saja yang meminta, tanpa berpikir panjang. Kita menjaga uang kita dengan hati-hati, tapi membuang waktu kita dengan sembarangan.

Seneca mengingatkan: kita menjaga uang dengan hati-hati, tapi membuang waktu dengan sembarangan.
Seneca mengingatkan: kita menjaga uang dengan hati-hati, tapi membuang waktu dengan sembarangan.

Harga yang Kita Bayar

Budaya sibuk punya harga yang nyata. Tubuh yang terus dipaksa bekerja tanpa istirahat cukup lama-lama memberontak dalam bentuk kelelahan kronis, gangguan tidur, dan penyakit. Pikiran yang tidak pernah diberi jeda kehilangan kemampuan untuk berpikir kreatif. Hubungan dengan keluarga dan teman merenggang karena selalu ada hal yang lebih mendesak.

Organisasi Kesehatan Dunia bahkan mencantumkan burnout dalam klasifikasi internasionalnya, ICD-11, sebagai fenomena yang berkaitan dengan pekerjaan, bukan sebagai kondisi medis. Cirinya adalah kelelahan, sikap sinis terhadap pekerjaan, dan menurunnya efektivitas profesional. Ini bukan sekadar soal merasa capek sesekali, melainkan tanda bahwa cara kita bekerja perlu ditinjau ulang.

Berani Tidak Sibuk

Aku sedang belajar menjawab "lagi santai" tanpa merasa bersalah. Waktu luang bukan kemalasan. Di waktu luanglah kita berpikir, merenung, dan menemani orang-orang yang kita sayangi. Banyak gagasan besar dalam sejarah lahir dari orang yang punya waktu untuk berjalan-jalan dan melamun.

Para peneliti yang mempelajari kreativitas sering menemukan bahwa ide-ide terbaik muncul bukan ketika kita sedang berusaha keras, melainkan ketika pikiran sedang beristirahat: saat mandi, berjalan kaki, atau menjelang tidur. Otak membutuhkan waktu kosong untuk menghubungkan titik-titik yang sebelumnya terpisah. Kesibukan tanpa jeda justru merampas kesempatan itu.

Banyak gagasan besar lahir dari orang yang punya waktu untuk berjalan dan melamun.
Banyak gagasan besar lahir dari orang yang punya waktu untuk berjalan dan melamun.

Langkah Kecil untuk Memulai

Berhenti mengagungkan kesibukan tidak berarti berhenti bekerja. Ini soal memilih dengan sadar. Mulailah dengan menyisakan satu blok waktu kosong di kalender setiap minggu, waktu yang tidak boleh diisi apa pun. Perhatikan apa yang kamu lakukan ketika tidak ada yang harus dilakukan. Coba juga mengganti jawaban "sibuk" dengan cerita yang lebih spesifik tentang apa yang sedang kamu kerjakan dan kenapa itu penting bagimu.

Yang paling sulit mungkin adalah melawan rasa bersalah. Kita sudah terlalu lama diajari bahwa nilai diri kita diukur dari seberapa banyak yang kita kerjakan. Melepas keyakinan itu butuh waktu. Tapi setiap kali kita berhasil menikmati waktu luang tanpa merasa bersalah, kita sedang merebut kembali sebagian hidup kita.

Penutup

Mungkin pertanyaan yang lebih jujur bukan "kamu sibuk apa?", melainkan "apa yang membuatmu merasa hidup minggu ini?" Jawabannya jarang berupa daftar rapat.

AuriMori

Blog pemikiran kritis tentang hal-hal yang kita lewati setiap hari: parkir liar, gang sempit, cinta, agama, dan dogma yang jarang diperiksa.

Kembali ke atas
© 2026 AuriMori. Hak cipta dilindungi. Ditulis pelan-pelan, dibaca sambil ngopi.