Overthinking atau Berpikir Kritis? Bedanya Tipis tapi Penting
Sama-sama memikirkan sesuatu berulang kali, tapi yang satu membuat kita jernih dan yang lain membuat kita lumpuh. Di mana garis batasnya?
AuriMori
5 menit baca
Jam dua pagi, aku masih memikirkan satu kalimat yang kuucapkan di rapat siang tadi. Apakah terdengar sombong? Apakah ada yang tersinggung? Aku menyebutnya berpikir mendalam. Temanku menyebutnya overthinking. Mungkin dia benar.
Yang membuatku bingung, blog ini justru mengajak pembacanya untuk lebih banyak berpikir: memeriksa keyakinan, mempertanyakan dogma, tidak menelan informasi mentah-mentah. Lalu kapan berpikir menjadi terlalu banyak? Apakah ada batas antara pikiran yang menjernihkan dan pikiran yang menenggelamkan?
Arahnya Berbeda
Berpikir kritis bergerak menuju kesimpulan: mengumpulkan informasi, menimbang, memutuskan, lalu tetap siap merevisi. Overthinking berputar di tempat: pertanyaan yang sama, skenario terburuk yang sama, tanpa informasi baru. Psikologi menyebut pola berpikir berulang seperti ini ruminasi, dan ruminasi sering dikaitkan dengan kecemasan serta suasana hati yang memburuk.
Bayangkan dua orang yang sama-sama memikirkan apakah akan pindah kerja. Orang pertama membuat daftar pertimbangan, bertanya kepada teman yang bekerja di perusahaan tujuan, menghitung biaya hidup, lalu memutuskan. Orang kedua memikirkan hal yang sama selama berbulan-bulan, membayangkan semua cara rencananya bisa gagal, tapi tidak pernah mencari informasi baru. Keduanya sama-sama berpikir keras. Hanya satu yang sedang berpikir kritis.
Psikolog Susan Nolen-Hoeksema, yang banyak meneliti ruminasi, menunjukkan bahwa kebiasaan memikirkan perasaan negatif berulang-ulang tidak membantu orang memecahkan masalah. Sebaliknya, ia cenderung memperdalam suasana hati yang buruk dan membuat orang makin sulit bertindak. Rasanya seperti sedang bekerja keras, padahal kita hanya berjalan di treadmill.
Kenapa Otak Senang Berputar
Ada alasan kenapa pikiran kita gemar berputar. Otak manusia dirancang untuk mendeteksi ancaman. Di zaman dahulu, nenek moyang yang terus memikirkan kemungkinan bahaya lebih mungkin selamat daripada yang santai. Masalahnya, ancaman zaman sekarang jarang berupa harimau. Ancamannya berupa komentar atasan, pesan yang belum dibalas, atau kekhawatiran tentang masa depan yang belum terjadi.
Overthinking juga memberi ilusi kendali. Ketika kita memikirkan semua skenario buruk, kita merasa sedang bersiap-siap, seolah dengan memikirkannya, kita bisa mencegahnya. Padahal sebagian besar skenario itu tidak pernah terjadi, dan yang terjadi jarang persis seperti yang kita bayangkan.
Tiga Pertanyaan Penguji
Saat pikiranku mulai berputar, aku memakai tiga pertanyaan ini.
Kalau jawabannya tidak, tidak, dan tidak, itu bukan berpikir kritis. Itu kecemasan yang mengenakan jas akademis.
Pertanyaan pertama membedakan analisis dari pengulangan. Berpikir kritis selalu menambahkan sesuatu: fakta baru, sudut pandang baru, atau pertimbangan yang sebelumnya terlewat. Pertanyaan kedua membedakan pikiran yang produktif dari pikiran yang menggantung. Kalau ada tindakan yang bisa diambil, ambil. Kalau tidak ada, memikirkannya lebih lama tidak akan menciptakan tindakan. Pertanyaan ketiga membantu kita mengukur proporsi. Banyak hal yang terasa genting malam ini ternyata sepele minggu depan.
Teknik Kecil yang Membantu
Selain tiga pertanyaan itu, ada beberapa teknik sederhana yang kupelajari dari pengalaman dan bacaan. Yang pertama adalah menulis. Ketika pikiran tertulis di kertas, ia berhenti berputar di kepala dan mulai bisa diperiksa. Sering kali, setelah ditulis, kekhawatiran yang terasa besar ternyata hanya terdiri dari dua atau tiga kalimat yang berulang.
Teknik kedua adalah memberi waktu khusus untuk khawatir. Kedengarannya aneh, tapi beberapa terapis menyarankan menjadwalkan lima belas menit sehari untuk memikirkan kekhawatiran. Di luar waktu itu, ketika pikiran mulai berputar, kita bisa berkata pada diri sendiri, "nanti saja, di jam khawatir." Cara ini membantu memisahkan pikiran dari aktivitas lain.
Teknik ketiga adalah bergerak. Berjalan kaki, membereskan kamar, atau mencuci piring bisa memutus putaran pikiran. Tubuh yang bergerak memberi otak sesuatu yang lain untuk diproses.
Berpikir Kritis Termasuk Tahu Kapan Berhenti
Ironisnya, berpikir kritis yang matang juga mencakup kemampuan menerima ketidakpastian. Kita tidak akan pernah punya semua data. Ada titik ketika keputusan yang cukup baik lebih berharga daripada keputusan sempurna yang tidak pernah diambil.
Ekonom dan ilmuwan kognitif Herbert Simon memperkenalkan istilah satisficing, gabungan dari satisfy dan suffice: memilih pilihan yang cukup baik, alih-alih terus mencari yang terbaik. Dalam banyak situasi, mencari pilihan sempurna justru menghabiskan lebih banyak waktu dan energi daripada manfaat tambahan yang didapat. Berpikir kritis bukan berarti memaksimalkan setiap keputusan, melainkan tahu keputusan mana yang layak dipikirkan lama dan mana yang cukup diputuskan dengan cepat.
Yang sempurna adalah musuh dari yang baik.
Kapan Perlu Bantuan
Kalau ruminasi terasa berat sampai mengganggu tidur atau pekerjaan, berbicara dengan psikolog bukan tanda lemah. Justru itu langkah yang paling rasional.
Banyak orang menunda mencari bantuan karena merasa masalahnya belum cukup parah, atau karena takut dicap tidak waras. Padahal, sama seperti kita pergi ke dokter ketika demam tidak kunjung turun, pergi ke psikolog ketika pikiran tidak kunjung tenang adalah keputusan yang masuk akal. Orang yang berpikir kritis seharusnya bisa melihat ini dengan jernih: kalau cara yang biasa tidak berhasil, cari cara lain.
Penutup
Pikiran adalah alat. Berpikir kritis memakainya untuk membangun sesuatu. Overthinking memakainya untuk menggali lubang, lalu duduk di dalamnya. Malam ini aku mencoba menuliskan kekhawatiranku di kertas, lalu menutup bukunya. Besok pagi, kalau masih penting, ia akan tetap menunggu.